Sejenak Merenung tentang Moralitas

Tak pernah terbayang jika manusia tidak mempuanyai moral, tapi lebih tak terbayang lagi jika manusia tidak punya hati nurani. Moralitas lebih mengatur pada apa yang baik dan yang tidak baik. Dia hanya menyentuh sisi terluar dari kehidupan dan tingkah laku manusia. Kita bisa membuat banyak sinonimnya: norma, nilai, etika, tatanan, dll. Tapi hati nurani menyentuh sisi terdalam dari batin manusia, karena dia berbicara tentang apa yang benar dan yang salah.
Orang mungkin mengatakan bahwa moralitas adalah pengejawantahan dari hati nurani manusia. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Hati nurani tak pernah terindera dan hanya bisa terasa. Moralitas teraplikasi dalam kehidupan. Tetapi perbedaan utamanya adalah bahwa moralitas adalah hati nurani yang telah terselubungi dan tercampur dengan topeng (mask). Manusia memakai topeng dalam perbuatan dan tingkah lakunya. Tidak semua moralitas dalam diri (hati nurani) bisa diaplikasikan dengan mudah pada dunia luar. Manusia selalu menampilkan apa yang selalu menyenangkan dan apa yang berwujud kebaikan ke dunia luar. Dan inilah peran topeng itu.
Ketika moralitas dijadikan sandaran suatu komunitas dan dijadikan pegangan hidupnya, selalu saja ada perbenturan dengan komunitas yang lain. Ini karena moralitas suatu kelompok tidak pernah sama dengan moralitas kelompok lain. Apa yang membedakannya ? Topeng. Topeng itu bisa berbentuk apa saja, bisa agama, budaya, nilai sosial, pendidikan, gaya hidup, dan lain-lain. Itulah yang membuat suatu moralitas berada dalam sisi relatif, bukan relatif dalam arti tidak ada patokan bersama tentang nilai kebaikan, tetapi relatif dalam arti "adanya topeng yang berbeda antara tiap individu dan antara tiap komunitas".
Untuk komunitas yang lebih homogen (walaupun tidak 100% homogen), lebih mudah mudah mengaplikasikan suatu moralitas tertentu, karena topeng yang dipakai oleh anggota komunitas itu tidak jauh berbeda. Moralitas jenis ini dapat dengan mudah kita jumpai di suatu komunitas yang sama secara agama, budaya, pendidikan, nilai sosial, dll. Misalnya saja kelompok yang mengaplikasikan peraturan-peraturan agama sebagai tatanan nilai dalam kelompoknya.

Tapi moralitas jenis itu akan menemui kesulitan ketika berhadapan dengan komunitas yang lebih majemuk. Apa yang membuatnya sulit ? Sekali lagi Topeng. Topeng yang berbeda dikenakan oleh orang dan kelompok yang berbeda akan menghasilkan nilai dan norma (moralitas) yang berbeda. Paksaan moralitas berupa keseragaman justru hanya menghasilkan konflik. Nilai yang berbeda tidak bisa dipaksakan seragam. Aturan-aturan yang melandasi kehidupan suatu komunitas besar yang heterogen adalah nilai bersama yang diadopsi dari masing-masing moralitas tiap kelompok dalam komunitas itu. Bahkan moralitas terkadang tidak boleh dijadikan suatu landasan hukum positif dalam komunitas itu. Karena mengundangkan suatu aturan yang berbasis moralitas tertentu akan menghadapi resistensi dari kelompok lain yang merasa tidak bisa menerima moralitas tersebut.
Adalah suatu hal yang teramat absurd kalau memaksakan suatu jenis moralitas tertentu yang berbasis pada suatu topeng tertentu pada kehidupan suatu komunitas yang heterogen.
May 9th, 2006 at 8:29 pm
nah makanya perlu yg namanya ‘toleransi’…iya ngga?