Archive for April, 2006

Injil Yudas & Dan Brown

Tuesday, April 18th, 2006

Apa berita menarik beberapa minggu belakangan ini di dunia Internasional ? Selain ribut-ribut soal pemberian visa bagi 42 warga papua oleh Australia, kerjasama Rusia dan Dunia Islam serta unjuk rasa di Nepal dan Perancis, ada berita menarik oleh National Geography : ditemukannya The Gospel of Judas alias Injil Yudas. Injil ini berbahasa Koptik dan ditulis sekitar 200 tahun setelah kematian Yesus. Lalu apa yang menarik ?

Orangpun mulai meneliti keaslian injil tersebut. Dan hasilnya adalah injil itu adalah asli bin murni. Keaslian manuskrip dan tulisan yang digunakan, serta aspek-aspek arkeologi lainnya yang mendukung keaslian injil itu. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah : apakah ceritanya benar-benar terjadi ? Tidak tahu. Banyak cerita mengenai kehidupan Yesus. Saking banyaknya bahkan kita bisa membuat Alkitab (kitab suci orang Kristen) menjadi sangat tebal jika semua cerita-cerita itu dijadikan satu alias dikanonisasi. Tapi yang diakui oleh umat Kristen sebagai cerita-cerita yang asli dan benar tentang kehidupan Yesus adalah hanya 4 kitab injil, sedangkan yang lainnya diragukan kebenarannya.

Terus terang, dan memang saya selalu berterus terang, bahwa keempat kitab injil itu (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sangat sedikit mengungkapkan "cerita lain" dibalik kehidupan Yesus, sedangkan bagi orang Kristen, Yesus adalah inti keimanan mereka. Tanpa konsep Ketuhanan Yesus maka runtuhlah semua iman Kristen yang dibangun dan disusun selama ribuan tahun. Contoh lain yang mengungkap kelemahan cerita Yesus dari sisi kekristenan adalah terbitnya novel Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code. Tak perlu diceritakan apa isinya karena saya yakin hampir semua sudah membacanya. Yang jelas buku Dan Brown itu lalu disertai dengan sejumlah counter-story, khususnya dari kalangan gereja, yang isinya menepiskan kebenaran dan kesahihan cerita Yesus ala Da Vinci Code-nya Dan Brown.

Mana yang benar ? Lagi-lagi saya tidak tahu. Ketika perdebatan terjadi di tingkat "elit", dengan memuat dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang mendukung argumentasinya, maka saya kembali lagi seperti si bodoh yang bingung : orang-orang ini lagi ngomongin apa sih ? koq masalahnya jadi ruwet gini ?

Bagi sebagian orang, mempertahankan dan membela dogma adalah kewajiban, atau dalam bahasa planetnya : apologetik (kini saya yang bikin bingung). Tapi bagi orang lain, dogma tidak penting. Yang penting adalah apakah isi keimanan itu. Walaupun seseorang jungkir balik mempertebal otaknya dengan mempelajari setumpuk dogma tapi jika isi keimanannya tidak ada, maka lebih baik tidak usah beragama. Bagi sebagian yang lain, keimanan tanpa tahu apa kebenaran dan konsep dibalik keimanan itu akan membuat seseorang gampang jatuh ke dalam kebuntuan akal. Iman harus disertai dengan akal, tanpa akal maka iman gampang goyah. Orang di pihak kedua lalu bertanya : bagaimana jika justru akal itu yang menegasikan (apa itu ?) keimanan kita ? Apakah kita tidal lagi mempunyai iman ?

Lalu perdebatan berubah seperti perdebatan telur dan ayam. Bagi saya, tidak penting mana yang benar. Saya tahu dogma karena dogma itu memperjelas keimanan saya. Tapi yang terpenting, bukan dogma itu yang membuat keimanan saya eksis, tapi adanya rasa di dalam hati saya. Iman menyangkut belief, dan walaupun sudah dihadapkan dengan bukti-bukti empiris yang menolak keimanan/belief saya, belief itu sangat susah terkikis karena keimanan menyangkut kenyamanan dan keamanan psikologis dan batin.

Lalu kalau orang bertanya lagi kepada saya : Apakah Gospel of Judas itu benar ? Apakah Da Vinci Code itu benar ? Saya jawab : peduli amat benar, yang penting iman saya yang sekarang membuat saya jadi orang yang benar. Titik nggak pakai koma.