Selamat Jalan Bung Pram

PramTadi pagi bangun dan dapat berita besar (setidaknya bagiku), Pramoedya Ananta Toer telah meninggal dunia. Serasa tak percaya tapi nyata.

Dari semua sastrawan Indonesia, menurutku, hanya Pram yang bisa membuat perbedaan dalam karya-karyanya. Ini bukan mengecilkan arti sastrawan lain. Pram mampu membuat karyanya bersuara dalam suasana keterpurukan sistem di Indonesia. Karya-karya Pram mampu menembus dinding kemapanan sistem di Indonesia. Bahkan karyanya bisa menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang untuk berjuang.

Pertama membaca Pram adalah karya tetraloginya : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. 3 dari karya tetralogi itu dilarang beredar oleh kejaksaan agung selama rezim Soeharto berkuasa. Sulit bagi sastrawan Indonesia lain yang bisa menandingi karya itu. Salah satu, menurut saya, sastrawan Indonesia yang karyanya juga menyentuh diri saya selain Pram adalah Bung Mochtar Loebis (Alm).

Pram dan Mochtar Lubis "berperang" ketika lembaga sastra yang mereka naungi juga berperang di masa Orde Lama. Pram dengan Lekra dan Mochtar dengan Manikebu. Saya tidak tahu peperangan jenis apa yang mereka lakukan, tetapi keduanya mendapat Penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Philipina. Sayang, Bung Mochtar mengembalikan hadiah itu sebagai protes atas Panitia Penghargaan Ramon Magsaysay yang juga memberikan hadiah yang sama kepada Pram.

Pram memang unik dan idealis. Ideologi yang diusungnya jelas adalah Sosialis dan cenderung Komunis. Ideologi ini sangat tampak dalam karya-karyanya. Tetapi walaupun dia mengambil sikap tegas atas ideologi, karyanya melampaui ideologinya itu. Karyanya kebanyakan adalah sastra fiksi historis.

Sekarang Bung Pram telah pergi. Selamat jalan Bung, biar kami yang mengenang kebesaranmu dan melakukan ide-idemu yang kau tuangkan dalam karyamu.

One Response to “Selamat Jalan Bung Pram”

  1. bagur Says:

    saya jg ikut turut berduka cita….

Leave a Reply