The (Un)smiling General : Soeharto

Apa kasus yang lagi ramai sekarang ? Banyak. Ada fenomena gunung Merapi meletus, ada kasus suap (katanya success fee, tapi sama saja) yang melibatkan Trunojoyo I, ada kasus hakim Tipikor yang lagi berkelahi, dan yang paling panas, kasus Soeharto, mantan presiden RI yang mengalami sakit dan dirawat di RS Pertamina. Kasus yang terakhir menjadi heboh karena Kejaksaan Agung mengeluarkan SKPP alias Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas diri Soeharto dengan alasan : Soeharto sakit dan tidak mungkin diajukan dimuka sidang.
Banyak yang pro dan kontra atas kasus Soeharto ini. Di pihak yang pro mengatakan bahwa Soeharto mengalami kemunduruan fisik dan mental yang tidak memungkinkan dirinya untuk hadir di persidangan. Alasan lainnya adalah masalah karakter bangsa ini yang seharusnya memaafkan Soeharto karena kondisinya dan juga mengingat jasa-jasanya. Di pihak yang kontra mengatakan bahwa masalah utama dari kasus Soeharto adalah : keadilan harus ditegakkan.
Memang sulit untuk memperlakukan Soeharto. Para pejabat negara kita tidak punya kata sepakat cara seperti apa yang akan diterapkan pada kasus ini. Soeharto memang kompleks, sekompleks senyumnya ketika masih berkuasa dulu. Semua sepakat bahwa Soeharto harus diadili, dan ini adalah amanat MPR yang meutuskan untuk menyelidiki kasus Soeharto. Tapi ketika Soeharto sakit, semua tidak sepakat memperlakukan Soeharto. Bahkan ada kata-kata yang terdengar bahwa kita harus memaafkan Soeharto melihat kondisinya saat ini dan mengingat jasa-jasanya dulu.
Tapi tunggu dulu. Memaafkan adalah masalah lain. Dan saya yakin bangsa ini adalah bangsa pemaaf yang bisa dengan gampang memaafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh orang lain kepadanya, apalagi jika kesalahan itu diperbuat oleh pemimpinnya. Hal itu sepertinya sudah menjadi sifat dan karakter bangsa ini. Tapi memaafkan bukan dengan serta merta membuat kita melupakan dan menghilangkan apa yang telah dilakukannya. Maaf tanpa keadilan adalah sebuah kesalahan. Bagi saya pribadi, Adil harus diutamakan, setelah itu baru maaf.
Lalu apakah adil kalau kita begitu saja melupakan semua kesalahan-kesalahan Soeharto dimasa lalu yang telah dituduhkan kepadanya ? Saya memaafkan Soeharto sebelum dia diadili, dan bahkan setelah dia diadili dan terbukti bersalah atau tidak bersalah. Tapi KEADILAN adalah jalan utama dan pertama penyelesaian masalah. Soeharto harus diadili, apapun caranya. Hal ini hanya untuk membuktikan satu premis sederhana bahwa ada keadilan dan kepastian hukum di negeri ini. Sudah terlalu banyak orang yang kebal hukum di negeri ini. Kalau cuma kebal peluru atau kebal golok, justru nggak apa-apa.
Mungkin bagi orang yang merasa berat untuk mengadili Soeharto masih mempunyai hutang jasa terhadap Soeharto, atau justru masih sedikit terhipnotis oleh senyum maut Soeharto yang mengandung seribu tanya. Tapi senyum itu tak bisa menyelamatkan dirinya lagi. Pengadilan, itulah jalan terbaik bagi Soeharto. Dan setelah itu masih terbuka beribu pintu maaf bagi Soeharto, karena orang yang memaafkan adalah orang yang berbesar hati.
May 24th, 2006 at 1:01 am
Pengadilan? apakah anda masih percaya terhadap pengadilan di Indonesia?
May 27th, 2006 at 7:49 am
masih, didn’t you ?