<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Saya Muak dengan Pendidikan Indonesia</title>
	<atom:link href="http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/</link>
	<description>ungkapan tanpa batas tentang makna dari segala sesuatu. </description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 06:44:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: andri pandawa</title>
		<link>http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-31</link>
		<dc:creator>andri pandawa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 10:05:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-31</guid>
		<description>saya sangat sangat setuju,karna apa ? kita sekoalah dan belajar di bangku SMP hanya di tentukan kelulusanya dengan 3 hari saja dan tepatnya hanya 6 jam. dan di bangku SMA hanya di tentukan kelulusanya pada 3 hari dan tepatnya 12 jam
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sangat sangat setuju,karna apa ? kita sekoalah dan belajar di bangku SMP hanya di tentukan kelulusanya dengan 3 hari saja dan tepatnya hanya 6 jam. dan di bangku SMA hanya di tentukan kelulusanya pada 3 hari dan tepatnya 12 jam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: JAYA</title>
		<link>http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-30</link>
		<dc:creator>JAYA</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 01:22:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-30</guid>
		<description>Ag setuju... dan satu hal lagi pemerintah jangan sesuka hatinya merubah sebuah kebijakan dalam pendidikan.. Coba ini, coba itu karena yang menjadi korban adalah guru. contoh sederhana sistem penilaian dalam rapor dulunya dinilai per mata pelajaran, berubah per sub mata pelajaran, lalu kembali lagi ke per mata pelajaran. yang capek kan guru karena sistem rapor masih manual, tulisan tangan yang tiap kebijakan harus diikuti penggantian rapor.. kapan gurunya konsen untuk meningkatkan kualitas didikan itu sendiri...
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ag setuju&#8230; dan satu hal lagi pemerintah jangan sesuka hatinya merubah sebuah kebijakan dalam pendidikan.. Coba ini, coba itu karena yang menjadi korban adalah guru. contoh sederhana sistem penilaian dalam rapor dulunya dinilai per mata pelajaran, berubah per sub mata pelajaran, lalu kembali lagi ke per mata pelajaran. yang capek kan guru karena sistem rapor masih manual, tulisan tangan yang tiap kebijakan harus diikuti penggantian rapor.. kapan gurunya konsen untuk meningkatkan kualitas didikan itu sendiri&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bagur</title>
		<link>http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-29</link>
		<dc:creator>bagur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jul 2006 17:10:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-29</guid>
		<description>iya yah....kenapa sih Indonesia harus niru negara lain? Standar kelulusan aja mau niru malaysia (atau mau nyaingin??? mana bisa!!!! cara berpikir rata2 penduduk indonesia aja masih jauh lebih ketutup....)
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>iya yah&#8230;.kenapa sih Indonesia harus niru negara lain? Standar kelulusan aja mau niru malaysia (atau mau nyaingin??? mana bisa!!!! cara berpikir rata2 penduduk indonesia aja masih jauh lebih ketutup&#8230;.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Siboliz-Is-Dead</title>
		<link>http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-28</link>
		<dc:creator>Siboliz-Is-Dead</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Jul 2006 04:59:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-28</guid>
		<description>ki hajar dewantara pendiri Taman Siswa dulu memberlakukan UAN ga yah?
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ki hajar dewantara pendiri Taman Siswa dulu memberlakukan UAN ga yah?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: 'red-october</title>
		<link>http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-27</link>
		<dc:creator>'red-october</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jun 2006 15:42:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fertob.blog.friendster.com/2006/06/saya-muak-dengan-pendidikan-indonesia/#comment-27</guid>
		<description>yah, saya juga setujuh dengan pendapat anda rekan tobing..
tidakh, saya sangat tidak setuju dengan pendapat rekan kita jusuf kalla (a.k.a pak kumis).

menurut hemat saya, u.a.n harus dikembalikan kepada fungsi awalnya dimana hanaya menjadi sarana "evaluasi" kualitas pendidikan secara nasional dan regional. BUKAN sebagai sarana penentu kelulusan.

seharusnya (menurut saya lagi) pemerintah melalui depdiknas dan b.s.p.n tidak cuma ngomong doang dan menuntut hasil dengan membuat standar nasional nilai minimum u.a.n, namun juga seharusnya memperbaiki kualitas pendidikan darai akarnya, yaitu sekolah2 yg ada di daerah. jangan jadikan kota2 besar seperti jakarta sebagai patokan.

rekan kalla bilang kalo di malaysia standar lulusnya 6.
mereka layak untuk membuat standar tinggi karena sekolah mereka megah, lengkap dan guru2nya bermutu serta kurikulumnya oke.

tapi di negri kita yg tercinta ini, jangankan kurikulum yg oke dan jelas, wong sekolanhya aja setara kandang ayam. malah setara dengan tanah (ambruk, mksdnya). trus guru2nya (maaf, bukan bermaksud merendahkan) hanyalah orang2 yang berjiwa pengabdi dan diterlantarkan oleh pemerintah dengan tingkat kesejahteraan dan pengetahuan serta pendidikan yg seadanya.

pesan saya buat pak kalla: jangan asal tuduh kami malas, bagaimana mau ranjin ke sekolah kalo sekolah nya mengancam keselamatan (takut ketiban genteng rubuh) dan buku2 semahal beras sekarung..

depdiknas, b.s.p.n, kalla = bullshit!
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yah, saya juga setujuh dengan pendapat anda rekan tobing..<br />
tidakh, saya sangat tidak setuju dengan pendapat rekan kita jusuf kalla (a.k.a pak kumis).</p>
<p>menurut hemat saya, u.a.n harus dikembalikan kepada fungsi awalnya dimana hanaya menjadi sarana &#8220;evaluasi&#8221; kualitas pendidikan secara nasional dan regional. BUKAN sebagai sarana penentu kelulusan.</p>
<p>seharusnya (menurut saya lagi) pemerintah melalui depdiknas dan b.s.p.n tidak cuma ngomong doang dan menuntut hasil dengan membuat standar nasional nilai minimum u.a.n, namun juga seharusnya memperbaiki kualitas pendidikan darai akarnya, yaitu sekolah2 yg ada di daerah. jangan jadikan kota2 besar seperti jakarta sebagai patokan.</p>
<p>rekan kalla bilang kalo di malaysia standar lulusnya 6.<br />
mereka layak untuk membuat standar tinggi karena sekolah mereka megah, lengkap dan guru2nya bermutu serta kurikulumnya oke.</p>
<p>tapi di negri kita yg tercinta ini, jangankan kurikulum yg oke dan jelas, wong sekolanhya aja setara kandang ayam. malah setara dengan tanah (ambruk, mksdnya). trus guru2nya (maaf, bukan bermaksud merendahkan) hanyalah orang2 yang berjiwa pengabdi dan diterlantarkan oleh pemerintah dengan tingkat kesejahteraan dan pengetahuan serta pendidikan yg seadanya.</p>
<p>pesan saya buat pak kalla: jangan asal tuduh kami malas, bagaimana mau ranjin ke sekolah kalo sekolah nya mengancam keselamatan (takut ketiban genteng rubuh) dan buku2 semahal beras sekarung..</p>
<p>depdiknas, b.s.p.n, kalla = bullshit!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
