Archive for July, 2006

Pergantian Blog

Monday, July 17th, 2006

Karena sesuatu dan lain hal blog ini akan dialihkan/dipindahkan ke blog penulis lainnya yang berada di wordpress. Alasan pemindahan ini dikarenakan blog ini sudah tidak dapat menampung lagi semua aktivitas dan kegiatan penulis. Blog ini tidak akan dihapus, tetapi hanya dikhususkan pada bagian-bagian yang bersifat personal.

Terima kasih.

“Atheisme” yang (Tidak) Bertuhan

Friday, July 14th, 2006

Aaos2Atheisme sering dikatakan sebagai suatu paham yang tidak mempercayai Tuhan, baik itu keberadaannya maupun perannya dalam kehidupan manusia. Sulit untuk merunut sejak kapan paham ini ada di muka bumi ini. Walaupun demikian, banyak orang yang mengklaim dirinya adalah atheis. Atheisme sendiri mulai diberikan landasan rasional ilmiah ketika Ludwig Feuerbach menerbitkan bukunya The Essence of Christianity dan melakukan kritik agama khususnya agama Kristen.

Atheisme model Ludwig Feuerbach adalah filsafat model "tak lain daripada….". Hal ini karena pemikiran yang diajukan hanya melihat sesuatu dibelakang/dibalik yang dibicarakannya. Bukannya secara jujur menyatakan kebenaran dan kesalahan dari agama tetapi langsung masuk kedalam adanya sesuatu dibelakang layar dari agama itu: "bahwa agama tak lain daripada….." Landasan filosofis ini sering disebut dengan nama Reduksionisme.

Dalam tulisan ini saya hanya mengungkapkan 4 landasan berpikir para pemikir-pemikir aliran utama Atheisme. tentunya dengan penjelasan singkat ala kadarnya. Keempat pemikir itu,  yang ikut mempelopori filsafat kritis terhadap agama, adalah Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, Friederich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.

1. Atheisme Ludwig Feuerbach.
Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.

Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat manusia mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain daripada sesuatu yang diberikan manusia penghargaan positif bagi dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama adalah hasil dari proyeksi itu sendiri. Dengan kata lain manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia menciptakan Tuhan dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.

Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, dll, yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik pribadi manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan kepada agama dan Tuhan yang sebenarnya telah menjadi dirinya. Oleh karena itu manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama bukanlah sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi pusatnya tidak lain adalah manusia itu sendiri.

2. Atheisme Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptakan metode Psikoanalisis, suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan landasan filsafat reduksionismenya, bahwa agama "tak lain daripada…".

Buku yang mengungkapkan atheisme Freud antara lain adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual agama mempunyai kemiripan dengan ritual obsesif kompulsif. Obsesif kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/perbuatan berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan "neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis". Suatu kalimat yang jelas nyata mengaitkan antara agama dan neurosis.

Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual agar dapat diterima secara sosial di masyarakat.

3. Atheisme Friederich Nietzsche
"Whiter is God,’ he cried. ‘I shall tell you. We have killed him - you and I. All of us are murderers… God is dead. God remain dead. And we have killed him…" (Friederich Nietzsche, The Gay Science, 1882).

Kutipan diatas adalah pernyataan Nietzsche dalam salah satu bukunya. "God is dead" yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks Kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan kepada Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).

Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science), bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik, dan bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.

4. Atheisme Jean-Paul Sartre
Sartre adalah salah satu tokoh terkemuka dalam Filsafat Eksistesialis. Dia adalah yang pertama kali mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Atheisme Sartre adalah salah satu inti dari filsafatnya.

Atheism10Sartre menolak konsep Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya (self-contradiction). Sartre mendefiniskan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah entitas yang eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak berhubungan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat kepada apapun juga. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti itu karena konsep sintesa itu berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (JP Sartre, Being and Nothingness : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943)

Selain itu konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberi arti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaannya dan ketidakmampuannya.

                                                                                    ====

Konsep-konsep Atheisme diatas dapat berkembang menjadi pemikiran-pemikiran baru dalam aliran-aliran atheisme. Dan perdebatab seputar konsep Ketuhanan akan terus berjalan sepanjang manusia masih memerlukan konsep itu.

Mengapa Saya Menulis ?

Tuesday, July 11th, 2006

WenowknowwhoTak terasa blog ini sudah terisi oleh beberapa artikel dengan beberapa kategori. Dan tak terasa tulisan-tulisan itu sudah menghiasi beberapa situs yang saya ikuti. Ada sedikit perasaan bangga bahwa saya bisa menulis walaupun terkadang tulisan itu hanya sekedar omelan dan lontaran uneg-uneg akibat kepenatan badan dan hati.

Banyak yang diperoleh, begitu kata orang, dengan menulis. Menulis membuat imajinasi mengembara ke rawa-rawa pengetahuan, ke lembah-lembah peradaban, bahkan sampai ke hamparan padang pasir ketidaktahuan. Semuanya berawal dari ketidaktahuan. Itu kata orang. Dan semua membentuk proses menuju akhiran yang bahkan bisa berbentuk ketidaktahuan baru. Yang jelas tidak ada kesimpulan umum yang bisa saya buat. Tulisan hanya mengungkapkan makna dan arti dari segala sesuatu, seperti yang tertulis dalam tag line blog ini. Lalu kemana akhir dari tulisan itu ?

Satu hal yang selalu saya ingat dalam menulis adalah : jagalah dirimu. Menjaga diri dari prasangka yang buruk walaupun itu terkadang terlepas liar tak terkendali, menjaga diri dari perasaan paling merasa tahu dan paling merasa mampu yang berujung pada kesombongan diri, menjaga diri dari kesimpulan liar tanpa bukti, dan juga menjaga diri dari tulisan yang tak bermakna. Tapi terus terang, semuanya sangat susah untuk dilakukan.

Ketika menulis tentang pendidikan, saya cenderung terjerumus dalam dikotomi pro dan kontra terhadap UAN. Ketika menulis tentang cinta dan kebodohan, saya cenderung terperosok dalam prasangka kebodohan orang atas nama cinta. Ketika menulis tentang keberuntungan, saya cenderung terjatuh dalam pengagungan terhadap hal-hal yang belum pasti seperti keberuntungan itu sendiri. Ketika menulis tentang Soeharto, saya cenderung terjerumus sekali lagi ke dalam praduga tak bersalah. Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat moto "jagalah dirimu" tidak selamanya berhasil dalam tulisan ini.

Di lain pihak menulis adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan dan membantu diri saya. Menulis mengembangkan hal-hal yang selama ini tidak saya sadari dari diri saya. Menulis membelah ketidaksadaran saya dan mengeluarkannya dari kegelapan walaupun hasil yang didapat masih berbentuk kegelapan juga. Tapi itulah fungsi menulis. Membuat diri kita berekspresi ke luar tanpa batas. Tak ada batasan dalam menulis bahkan ketika kita menulis hal-hal yang sudah umum dibicarakan oleh orang lain.

Dan ketika tulisan-tulisan itu sudah menggunung dan ketika saya merefleksikannya kembali, terbersit keinginan kecil dalam hati untuk berhenti menulis. Capek dan lelah, malas, tak berguna, dan banyak alasan lain untuk menghentikan aktivitas ini. Semuanya itu bukan membuat diri saya makin nyaman tapi justru membuat menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan. Menggairahkan sekaligus melelahkan. Dan yang terpenting menarik sekaligus membosankan.

Tapi apakah semuanya itu akan berhenti ? Saya sendiri tidak tahu. Tidak tahu mungkin kata yang paling tepat menggambarkan aktivitas ini. Berawal dari ketidaktahuan dan berakhir pada ketidaktahuan. Jadi ketika menulis membuat saya tidak tahu, maka saya akan terus menulis sampai ketidaktahuan itu justru membebaskan diri saya dari prasangka paling mengetahui. Kontradiktif ? Mungkin saja, tapi itulah yang membuat tulisan-tulisan ini menjadi berarti bagi saya, dan entah buat orang lain. Sama tidak tahunya ketika seorang bayi baru lahir dan tidak mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini. Itulah saya, yang berusaha untuk menjadi bayi yang baru lahir atau seperti papan putih tabula rasa yang berusah menyerap semua apa yang ada didunia ini dan menuliskannya kembali. Dan ketika bayi itu tetap menjadi bayi atau papan tabula rasa itu tetap berwarna putih setidaknya ketidaktahuan itu pernah diisi oleh sesuatu.

Ternyata Cinta… (Cinta tidak Bodoh, tapi Bisa Bikin Orang jadi Bodoh)

Sunday, July 9th, 2006

         Dan ternyata cinta yang menguatkan aku….
         Dan ternyata cinta tulus mendekap jiwaku…
                                     (Ternyata Cinta by Padi)

Amor_de_serpiente
Lirik lagu dari grup musik Padi diatas sangat manis terdengar. Dan saya yang merupakan penggemar Padi bisa merasakan kekuatan dalam lagu itu, baik secara lirik maupun musik.

Tapi bukan itu intinya. Yang menjadi permasalahan adalah cinta itu sendiri, yang teramat sering diumbar dalam bentuk lagu. Sedemikian dahsyatkah cinta itu sehingga hampir tiap lagu yang saya dengar, baik dari televisi, radio, komputer, ataupun media yang lain, selalu bertema cinta dan cinta ? Retoris memang, karena jawabannya sudah pasti. Tetapi apakah cinta itu sampai sedemikian dahsyatnya memainkan peran dalam kehidupan manusia ?

Tentu saja kalau saya menjawab pertanyaan bodoh diatas (apakah cinta itu ?), saya akan menjadi seperti orang bodoh. Sulit untuk mendefiniskan cinta, dan jika anda menanyakan hal itu pada sejuta manusia, saya yakin, dan teramat sangat yakin, bahwa anda akan mendapatkan sejuta jawaban, dan terkadang jawaban yang bodoh. Di lain cerita, cinta, seperti dalam lirik lagu Padi, bisa mempunyai banyak fungsi, tugas, wewenang, makna, dan tetek bengek lainnya. Seperti : menguatkan aku, tulus mendekap jiwaku, mampu menjawab perbedaan, dll.

Saya koq tiba-tiba jadi orang yang bodoh tentang cinta ? Saya punya beberapa teman yang mencintai orang lain yang jelas-jelas "tidak selevel" dengan dirinya. Anda tahu maksudnya, bukan ? Saya mengandaikan anda sudah tahu maksudnya. Maksudnya begini: ada teman saya yang pacaran dengan satu orang tapi menikah dengan orang lain, ada yang menikah tanpa pernah pacaran (bahkan katanya tidak suka) dan cintanya timbul setelah mereka menikah dan punya anak, ada  teman yang tidak pernah ketemu selama lebih dari 5 tahun (dan dulunya juga tidak pacaran) dan sekali ketemuan 3 bulan kemudian langsung menikah, dan kasus-kasus yang lain. Itu maksud saya dengan "tidak selevel". Itu juga dengan pengandaian bahwa kenalan, pacaran, menikah dan sebagainya sebagai manifestasi (?) adanya cinta. Itu bisa salah, tetapi setidaknya sudah diterima umum.

"Ketidakselevelan" ini membuat orang yang mempunyai cinta menjadi tampak bodoh dalamAmor_25_1
pandangan orang lain. Bodoh karena dengan cinta yang dia punya, dia bisa membuat pilihan yang tampaknya bodoh dalam hidupnya, (dalam pandangan orang lain, sekali lagi !) dan beroleh kebahagiaan dengan pilihannya itu. Dan ketika ditanya, mengapa membuat pilihan seperti itu, jawabannya-pun sumir : That’s Love. Gubraaakkkk…!!!!

Tapi jika pilihan itu membuat bahagia, kita bisa mengatakan "sengsara membawa nikmat" atau "berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian". Di cerita yang lain, ada orang-orang yang tidak membuat pilihan yang bodoh dalam kehidupan cintanya, tetapi benar-benar menjadi bodoh karena cinta. Anda tahu maksudnya ? Dirinya benar-benar menjadi "bodoh" (sekali lagi, dalam pandangan orang !) karena cinta yang dipunyainya membuat hidupnya hancur berantakan. Ada yang meninggalkan teman-temannya karena mencintai orang lain yang tidak suka teman-temannya itu, ada yang merelakan harta hanya untuk cinta yang tidak pernah dapat diraihnya, bahkan ada yang rela kehilangan nyawa untuk cintanya.

Bodohkah mereka ? Dalam kasus tertentu bisa saja tidak bodoh, tetapi bisa dikatakan pengorbanan, kepahlawanan, kekuatan, dan lain sebagainya. Tetapi di kasus-kasus cinta antar manusia dewasa yang sebagian besar berisi ketertarikan akan fisik dan penampilan lalu menggeneralisasikannya sebagai cinta, hal itu bisa berarti kebodohan, tanpa embel-embel pengorbanan atau kepahlawanan. Itulah, cinta mempunyai kekuatan untuk "membodohkan" seseorang.

Tetapi jika cinta mempunyai kekuatan seperti itu, apakah cinta, dan kata kerjanya, mencintai adalah juga sebuah kebodohan. Saya berani untuk mengatakan tidak. Cinta sebagai sebuah rasa tidak pernah dikaitkan dengan kebodohan. Justru cinta sering diungkapkan dengan anugerah, bahwa adalah suatu anugerah untuk mempunyai cinta dan mencintai. Dalam pendekatan spiritualitas, cinta adalah karunia yang diberikan oleh Sang Pencipta agar ciptaannya dapat mengenal lebih dekat ciptaan yang lain dan juga dapat lebih mengenal penciptanya. Indah memang.

Ternyata cinta memang tidak bodoh, yang bodoh seringkali adalah manusia yang mencintai. Kebodohan sering timbul karena cinta diagungkan melebihi kehidupan. Cinta tanpa kehidupan bisa berarti kesia-siaan, dan kehidupan tanpa cinta bisa berarti…. Saya tidak ingin membayangkannya, karena saya takut akan terwujud.

Anda tahu maksudnya, bukan ?

 

Menggugat Kualitas Pendidikan Indonesia

Monday, July 3rd, 2006

Eyl_logo
Hari ini kita bicara tentang kualitas pendidikan. Bung Bambang Sudibyo, sang Mendiknas ketika ditanya mengenai kualitas pendidikan di Indonesia dan keterkaitannya dengan Ujian Akhir Nasional (UAN) mengatakan bahwa tingkat kelulusan 90% untuk level SMA menandakan adanya peningkatan kualitas pendidikan. Di lain waktu Bung Jusuf Kalla, sang Wapres, mengatakan bahwa kualitas pendidikan adalah yang terutama, sehingga upaya penghapusan UAN tidak mungkin dilakukan karena kita tidak bisa bermain-main dengan kualitas pendidikan itu.

Ada apa dibalik ucapan kedua petinggi negara ini sehingga mengkaitkan kualitas lulusan "proyek UAN" dengan kualitas pendidikan nasional. Tapi kita perlu membedah dan perlu bertanya lebih dalam tentang berbahayanya memakai kata "kualitas pendidikan" sebagai pemaafan terhadap proyek UAN.

1. Antara telur dan ayam : kualitas vs pemerataan

Perdebatan seputar mana yang harus dipriorotaskan, apakah kualitas pendidikan ataukah pemerataan pendidikan adalah seperti memperdebatkan mana yang lebih dahulu, ayam atau telur. Bagi saya, keduanya harus diprioritaskan dalam kondisi normal. Tetapi dalam kondisi dimana pendidikan menjadi suatu alat membangun manusia, maka pemerataan pendidikan haruslah mendapat tempat utama. Logikanya begini. Negara kita bertujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya (lihat Pembukaan UUD 1945). Manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang terdidik, baik intelektualitasnya, emosinya, maupun perilakunya. Dan pembangunan itu hanya, dan hanya bisa, didapat melalui pendidikan. Oleh karena pendidikan menjadi alat utama dan terutama dalam membangun manusia, maka yang dibutuhkan dan diperlukan oleh bangsa Indonesia sekarang ini adalah kesempatan memperoleh pendidikan yang seadil-adilnya bagi SELURUH rakyat Indonesia.

Orang Papua dapat menikmati pendidikan seperti saudara-saudaranya di Jakarta, Medan, Banjarmasin, Kupang, Gorontalo, Ternate, atau dimana saja di Indonesia ini. Dan pendidikan yang mereka dapatkan adalah pendidikan yang merata, dalam arti merata dalam hal kurikulum, sarana-prasarana, guru, buku pelajaran, dan seterusnya. Jika hal ini belum diwujudkan, berarti sebagai warga negara yang berhak mendapatkan pendidikan, mereka telah diabaikan. Setelah pemerataan ini tercapai, kita baru bisa bicara tentang kualitas. Setelah semua anak negri ini mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, baru kita bicara kualitas. Menurut data BPS tahun 2003, angka buta huruf di Indonesia yang berusia diatas 10 tahun mencapai 9,07% atau 15,5 juta orang. Apa artinya angka ini ? Artinya pendidikan belum merata dinegeri ini, karena masih banyak rakyat yang bahkan masih belum bisa membaca dan menulis. Lalu bagaimana kita bisa berpikir mendahulukan kualitas pendidikan sedangkan pendidikan masih belum merata di negeri ini ? Kualitas pendidikan hanya diperbincangkan di kota-kota besar, sambil mengandai-andaikan dan menduga-duga bahwa di tempat lain sama keadaannya dengan di kota besar. Suatu ironi ?

2. Interpretasi Angka dan Persentase

Angka kelulusan untuk tingkat SMA (sebagai contoh) adalah minimal memperoleh nilai 4,26 untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Apakah arti angka 4,26 ini ? Kita bisa mengartikan bahwa siswa dengan nilai rata-rata dibawah 4,26 berkualitas lebih rendahImage016
dibandingkan siswa dengan nilai rata-rata diatas 4,26. Pernyataan diatas tidak salah kalau kita mengkaitkan bahwa UAN akan menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas yang bagus. Benarkah ? Sama sekali SALAH. Nilai bukanlah satu-satunya indikator penentu kualitas pendidikan, apalagi jika nilai itu tidak komprehensif alias tidak mencakup seluruh aspek pembelajaran yang siswa ikuti selama 3 tahun (untuk SMA) bersekolah.

Interpretasi terhadap nilai itu dapat juga berarti bahwa lulusan tahun ini (2006) yang berstandar nilai 4,26 mempunyai kualitas yang lebih bagus dibandingkan lulusan tahun 2004 yang bersatandar nilai 3,01. Interpretasi ini sah-sah saja jika kita mengkaitkan nilai kelulusan dengan kualitas hasil pendidikan. Tapi interpretasi atas nilai terkait kualitas akan mengabaikan seluruh aspek pembangunan manusia dalam pendidikan dengan hanya melihat NILAI sebagai satu-satunya Titik Potong Kualitas Pendidikan. Pendidikan lalu hanya berkutat soal nilai dan nilai, tanpa ada pesan dan harapan lain didalamnya. Kita lalu membuat label (labelling) terhadap siswa, bahwa siswa dengan nilai dibawah 4,26 adalah bodoh alias tidak berkualitas, sedangkan siswa dengan nilai diatas 4,26 adalah pintar dan berkualitas. Sangat menyedihkan.

Dilain pihak, Bung BS sempat berkomentar bahwa siswa SMA (sebagai contoh) yang berhasil lulus UAN mencapai angka diatas 90%, dan itu berarti adanya peningkatan kualitas pendidikan, karena yang berhasil lulus tahun lalu (2005) hanya mencapai 80-an persen saja. Benarkah ini ? Menyedihkan rasanya, kalimat seperti itu diucapkan oleh orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan di negeri ini. Dari mana sang Menteri bisa menyimpulkan bahwa angka 90% lebih berkualitas dari angka 80% ? Sementara dilain cerita kita telah terbiasa dengan hal-hal mencurigakan yang terjadi selama penyelenggaraan UAN, seperti yang diberitakan Metro TV dalam acara Metro Realitas tanggal 29 Juni lalu tentang kecurangan di seputar UAN.

Jika kualitas pendidikan hanya dipermainkan seputar angka dan persentase, kita akan siap sedia melihat bahwa pendidikan Indonesia akan kehilangan maknanya dalam membangun manusia Indonesia.

3. Kualitas Pendidikan dan Anggaran Pendidikan

Selain berbicara kualitas, kita juga harus tahu bahwa konstitusi kita mengamanatkan agar anggaran pendidikan mencapai 20% dari pendapatan nasional. Tapi apa yang dicapai sampai sekarang ? Anggaran 20% itu tak tercapai, bahkan pemerintah sibuk berkelit bahwa anggaran itu bukanlah suatu keharusan dan kewajiban. Anggaran memang bukan satu-satunya penentu kualitas pendidikan, tapi tanpa adanya anggaran, kita tidak bisa melihat pendidikan yang layak dan pantas di Indonesia.

Articletemplate7_clip_image001
4. Pelabelan Pintar/Bodoh

Lulusan UAN adalah siswa yang telah berhasil mengerjakan soal-soal yang disusun oleh pemerintah dalam rangka penentuan standar nasional. Dan orang-orang yang tidak lulus UAN adalah orang-orang yang gagal. Apakah mereka bodoh ? Jika kita memakai paradigma pemikiran bahwa standar 4.26 (sebagai contoh) adalah standar penentu kualitas pendidikan, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa siswa yang gagal adalah bodoh dan malas. Apakah benar seperti itu ?

Pertanyaan itu terus terang menohok pengertian kita tentang psikologi orang-orang bodoh. Apakah orang-orang yang gagal dalam pendidikan adalah orang bodoh ? Terus terang pelabelan seperti ini melanggar hakikat manusia, bahwa manusia itu dilahirkan berbeda dengan kemampuan dan kekurangan yang berbeda-beda. Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard mengatakan bahwa pada dasarnya inteligensi itu tidaklah tunggal, tetapi terdiri atas beberapa dimensi yang berbeda pada tiap manusia. Inteligensi yang berbeda-beda itu misalnya adalah linguistic intelligence, spatial intelligence, body-kinestetic intelligence, logical-mathematical intelligence, musical intelligence, dll. Apa artinya itu ? Artinya, setiap siswa yang tidak lulus UAN dan dikatakan bodoh, bukanlah manusia-manusia yang benar-benar bodoh, tetapi mempunyai kecerdasan yang berbeda dengan siswa-siswa lain yang lulus UAN.

Seseorang dapat cerdas dalam spatial intelligence tetapi lemah dalam logical-mathematical intelligence. Lalu dapatkan kita mengatakan dia bodoh ? Tidak bisa. Oleh karena itu, UAN yang hanya menyaratkan jenis inteligensi tertentu sebagai syarat kelulusan mempunyai kecenderungan dalam pelabelan bodoh/pintar. Yang lulus pintar dan yang tidak lulus bodoh. Sangat menyedihkan.

5. UAN sebagai standar

Jika UAN akhirnya dipaksakan sebagai standar kualitas pendidikan, tentunya UAN haruslah memenuhi berbagai syarat antara lain : penelitian menyeluruh dan mendalam atas standar pendidikan nasional kita. Setelah kita melakukan penelitian menyeluruh itu barulah kita berbicara tentang standar pendidikan. Selain itu, UAN bukanlah dipakai sebagai PENENTU KELULUSAN. UAN tidaklah menggambarkan dinamika pendidikan di sekolah-sekolah. UAN dapat dipakai sebagai cara kita mengetahui pengetahuan siswa, dibandingkan dengan daerah lain, dalam menyerap ilmu yang telah diberikan. Lebih dari itu, tanggung jawab atas kelulusan siswa haruslah diberikan kepada orang yang paling mengerti tentang siswa itu sendiri, yaitu Guru.

Lalu, mau kita kemanakan UAN yang telah terlaksana itu ? Bahasa gaulnya, lebih baik ke laut saja. Mungkin disana UAN model ini bisa ketemu dengan teman-teman sehatinya.