Duka Cita Untuk Jogja & Jateng
June 3rd, 2006 by fertobTidak ada kata yang terucap selain :
Turut Berduka Cita
atas Bencana Gempa Bumi
di Jogja dan Jateng
Semoga Para Korban diberi ketabahan oleh Yang Maha Kuasa. Amin
Tidak ada kata yang terucap selain :
Turut Berduka Cita
atas Bencana Gempa Bumi
di Jogja dan Jateng
Semoga Para Korban diberi ketabahan oleh Yang Maha Kuasa. Amin
Satu hal yang sering mengusik pikiranku adalah ketika menyalakan TV dan mengganti channel ke MTV versi MTV Lokal Abieeezz dan kebetulan yang sedang mendendangkan lagu adalah Agnes Monica dengan lagu barunya (lupa judulnya…) dimana ada lirik dari lagu itu yang berbunyi : …dimana letak surga itu…. ? Yang timbul dalam pikiran saya pertama kali adalah, apakah yang mengarang lagu ini (dan yang menyanyikannya) tidak tahu dimana letak surga itu ? Apakah surga itu begitu tersembunyi dan tak teridentifikasi sehingga kita masih perlu bertanya, dimana letak surga itu ?
Waktu kecil dulu, orang (guru, tetangga, dll) sering berkata kalau surga ada di telapak kaki ibu. Itulah makanya mereka menganjurkan kalau kita harus sangat menghormati ibu kita. Dulu saya mengartikannya secara harafiah, bahwa memang benar kalau surga itu di telapak kaki ibu. Sehingga ibu saya sering saya pijat kakinya, siapa tahu bisa melihat surga di telapak kakinya. Setelah besar dan seperti sekarang ini saya baru mengerti kalau penggambaran surga di telapak kaki ibu hanyalah suatu kiasan agar kita lebih dapat menghormati dan menyayangi ibu kita. Tak ada yang ingin nasibnya seperti Malin Kundang, bukan ?
Lalu ketika saya belajar agama di sekolah dasar sampai kuliah, saya diberikan lagi konsep tentang SURGA. Bahkan lengkap dengan lawannya : NERAKA. Penggambaran surga dalam pemahaman agama, lagi-lagi saya tangkap secara harafiah. Bahwa orang yang beriman dan percaya akan masuk surga sedangkan orang yang tidak beriman dan selalu berbuat kejahatan akan masuk neraka. Surga seakan-akan menjadi ganjaran atas keimanan dan perbuatan baik kita di dunia ini. Jika baik masuk surga, jika jahat masuk neraka. Simple.
Tentunya konsep surga yang saya dapatkan dalam pelajaran agama selama bersekolah adalah surga setelah kematian. Surga hanya ada ketika kita telah mati dan menghadap pencipta. Dan disitu kita akan disaring, siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Lalu timbul pertanyaan bodoh berikutnya : apakah ketika kita masih hidup di dunia ini tidak ada surga ? Surga yang saya maksud bukanlah surga yang ada di telapak kaki ibu. Banyak yang menjawab, TIDAK ADA. Saya tidak ingin berdebat dengan para penentang surga dunia tetapi hanya sekedar berusaha menjawab pertanyaan bodoh tadi.
Surga dalam pengertian umum adalah sesuatu tempat yang menyenangkan, penuh dengan kenikmatan dan kesenangan, dan yang terpenting adalah abadi (eternal). Disitu tidak ada penderitaan dan kesakitan, disitu seseorang dapat dipuaskan kebutuhannya (dalam pengertian agama : kebutuhan rohani). Surga adalah tempat dimana kita sudah tidak punya keinginan-keinginan lagi karena SEMUA keinginan kita telah terpenuhi. Apakah anda tahu semua keninginan anda ? Di surga, semuanya telah terpenuhi, bahkan keinginan yang tidak kita sadari sekalipun. Surga adalah abadi karena setelah surga tidak ada lagi tempat lain yang lebih indah dari surga, dan di surga tidak ada kematian dan yang ada adalah kehidupan yang kekal. Dengan kata lain, surga adalah suatu TEMPAT yang menjadi tujuan hidup semua manusia di bumi ini.
Kembali ke pertanyaan bodoh diatas : apakah tidak ada surga di dunia ini, sehingga kita harus mati
dulu untuk mencapainya ? Saya tidak tahu seperti apa surga yang akan saya peroleh ketika mati nanti, oleh karena itu saya tidak tahu kenikmatan dan kesenangan seperti apa didunia ini yang dapat disamakan dengan surga. Tapi bagi pencinta dan penikmat hedonisme, kehidupan di dunia ini adalah surga. Inilah dan sekarang inilah (here and now) anda sedang melihat surga. Penjelasan sejarahnya panjang mengapa hedonisme itu ada, tetapi salah satu motto utamanya adalah Carpe diem alias nikmatilah hari ini (terjemahan kasarnya). Surga itu eksis sekarang ini di dunia ini, dan yang kita lakukan sekarang ini hanyalah menikmati kehidupan ini sepuas-puasnya karena inilah surga dan setelah itu tidak ada lagi. Wow, dahsyat dan memabukkan, karena kita tidak perlu berpikir lagi tentang kehidupan di surga setelah kematian.
Bagi sebagian kalangan orang, surga hanyalah konsep semata. Konsep yang kita buat di otak kita dan kita analogikan dengan segala sesuatu yang berwujud pada hal-hal yang menyenangkan. Konsep seperti ini membutuhkan si pembuat konsep alias manusia. Jika manusianya mati, maka konsep tentang surga itupun otomatis mati, dan dengan demikian surga itu otomatis mati pula alias tidak eksis. Konsep ini bersifat subyektif. Tak ada salahnya berpikir subyektif menyangkut kesenangan karena kesenangan itu sendiri subyektif, sehingga surga boleh dikatakan subyektif pula.
Lalu saya masih sering bertanya, seperti apa surga itu dan dimana letaknya, setelah saya mengetahui pendapat-pendapat di kanan dan kiri saya yang menjelaskan tentang surga ? Jika mengikuti insting keagamaan dan spiritualitas saya, saya akan berkata surga itu ada setelah kematian sebagai ganjaran atas kehidupan kita di dunia ini yang diberikan sang pencipta. Jika mengikuti naluri kesenangan saya, saya akan mengatakan kalau surga itu ada sekarang ini dalam kehidupan dan harus dinikmati sepuas-puasnya. Jika saya mengikuti konsep dalam kepala saya, maka saya akan mengatakan bahwa surga itu hanya sekedar konsep di dalam otak saya yang saya koneksikan dengan kesenangan dan akan mati ketika saya juga mati.
Mana yang saya ikuti ? Banyak orang yang bilang : Pilih salah satu. Tidak ada ada daerah abu-abu dalam surga, yang ada hanyalah putih dan hitam. Putih di sini dan hitam di seberang sana. Memang kejam, kita harus disuruh memilih ketika kita tidak tahu harus memilih apa. Tapi saya selalu memilih satu kata untuk memilih surga : BERDAMAI. Hah, binatang apa itu ? Saya tidak ingin terlalu mengekang atau meliarkan pilihan-pilihan nafsu, spiritualitas, dan rasionalitas dalam diri saya. Dan yang saya lakukan adalah mendamaikannya dalam diri saya. Terasa sulit ? Tidak juga. Hanya butuh sedikit kesabaran dan kebesaran jiwa. Tetapi, sialnya, saya belum mencapai tahap pendamaian yang sebenarnya. Jika sudah, tentunya saya telah mencapai taraf kesadaran seperti tokoh-tokoh spiritualis besar dunia.
Saya tidak tahu surga seperti apa yang ditanyakan Agnes Monica. Mungkin kalau kami bertemu, saya akan menanyakan kepadanya. Untuk sementara saya simpan perasaan saya ini. Atau, apakah anda tahu ? Maksud saya, tentang surga yang dimaksud Agnes Monica dan tentang surga yang sebenarnya ? Saya tunggu jawaban anda.
Banyak teman yang mengklaim kepada saya kalau dirinya sudah mengikuti berbagai jenis tes psikologi dan sudah latihan soal-soal tes psikologi, tetapi ketika mengikuti psikotes di sebuah perusahaan, diberitahukan bahwa dirinya tidak lulus psikotes. Sementara soal-soal yang diujikan sudah dikenalnya dan dapat dengan mudah dikerjakannya. Ada apa gerangan ? Lalu ada orang lain yang bertanya, saya kan sudah lulus psikotes di perusahaan ini, koq di perusahaan anu bisa nggak lulus ? apa nggak ada semacam sertifikat yang menyatakan kita sudah lulus psikotes, jadi nggak harus bolak-balik ikut psikotes ? koq hasil psikotes kita nggak pernah diberitahukan kepada kita sebagai testee ? dlsb, dlsb….
Saya yakin kalau banyak orang yang merasa ingin tahu seperti apa tes psikologi itu. Apa dasarnya, apa parameternya, apa ukurannya, dan apa tetek bengeknya. Mungkin tulisan ini tidak bisa menjawab segumpal kegundahan, tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran.
Psikotes pada dasarnya adalah sebuah tes psikologi yang diberikan dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Psikotes menyangkut semua tes yang berhubungan dengan psikologi, berupa alat diagnosa dan prognosa dari suatu fenomena yang akan diketahui. Oleh karena itu psikotes bukanlah hanya tes yang berhubungan dengan pencil-and-paper test saja, tetapi bentuk lain seperti wawancara dan observasi dapat juga digolongkan sebagai psikotes jika tujuannya untuk mengetahui suatu gejala psikologis tertentu.
Tes psikologi secara umum dapat dibagi kedalam beberapa bagian, yaitu (1) Tes Kepribadian; (2) Tes Bakat; (3) Tes Inteligensi; dan (4) Tes Prestasi. Walaupun demikian, banyak ahli yang menggolongkan beberapa tes psikologi diluar ke-4 tes tersebut. Keempat tes tersebut tidak serta merta digunakan semuanya dalam sebuah baterai tes, tetapi tergantung dari tujuan yang akan dicapai oleh tes-tes tersebut.
Tes Kepribadian adalah jenis tes yang bertujuan untuk mengetahui kepribadian seseorang.
Kepribadian adalah unit psikologi yang bersifat covert dan tidak dapat dilihat dan hanya bisa diketahui dengan suatu tes tertentu yang bernama tes kepribadian. Model dan bentuknya bermacam-macam. Ada yang berbentuk pencil-and-paper test seperti MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory), ada yang berbentuk tes proyeksi seperti Tes Rorschach, TAT (Thematic Apperception test), dll. Tes Bakat adalah jenis tes berikutnya yang lebih menekankan pada prognosa fenomena psikologis yang akan diketahui. Dalam hal ini tes bakat (aptitude test) mengetahui semacam potensi terpendeam yang dimiliki. Kebanyakan tes bakat mempunyai nilai prediksi terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan dari suatu individu. Misalnya Tes Kesiapan Masuk Sekolah, Tes Bakat Khusus (SAT), Tes Bakat Mekanikal, dll.
Tes Inteligensi adalah tes umum yang bertujuan mengetahui kemampuan intelegensi seseorang pada suatu saat tertentu. Tes ini banyak dibicarakan orang karena pada umumnya memberikan suatu skala inteligensi. Tes inteligensi misalnya Tes Stanford-Binet, Tes Wechsler, dll. Sedangkan Tes Prestasi adalah jenis tes yang lebih sering dipakai dalam dunia pendidikan khususnya untuk mengetahui seberapa besar penguasaan materi tertentu pada anak didik.
Walaupun demikian, banyak tes-tes yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan tujuan dan lingkungan penggunaan tes tersebut. Untuk tes-tes yang diupakai di perusahaan untuk tujuan recruitment, placement, atau training dipakai variasi tes-tes kepribadian, bakat, wawancara, focus group discussion (FGD) dan tes yang dikhususkan untuk pekerjaan tertentu (situational test).
Khusus untuk tes kepribadian, pengukuran yang dilakukan bukanlah pengukuran benar-salah, tetapi pengukuran untuk mengetahui jenis kepribadian yang ada dalam diri seseorang. Jawaban yang diberikan individu mencerminkan karakter kepribadian yang dimilikinya dan tidak dihubungkan dengan suatu kemampuan (ability) tertentu. Untuk ability test (Bakat dan Inteligensi), pengukuran dilakukan dengan melihat jawaban benar-salah dari individu, dan diskoring untuk melihat tingkat kemampuan individu tersebut.
Lalu apa yang bermasalah dengan tes psikologi ? Yang jarang diketahui oleh seseorang adalah tes psikologi sangat berhubungan erat dengan TUJUAN yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, tes psikologi dilakukan dengan tujuan untuk recruitment petugas keamanan atau satpam. Jenis tes psikologi kemudian ditetapkan dalam suatu baterai tes (sekumpulan tes), standar yang digunakan, dan aspek-aspek psikologis apa yang mendapat perhatian utama, dan lain-lain. Orang yang berkepribadian penakut, misalnya, tidak mungkin menjadi seorang satpam. Begitu juga dengan tingkat inteligensi, seseorang yang memperoleh skor 145 (normal = 100) dalam tes inteligensi, secara standar melebihi standar normal yang ditetapkan dan oleh karena itu belum tentu cocok dengan tujuan pekerjaan sebagai satpam. Begitupula dengan aspek-aspek psikologis lain yang diketahui dari tes psikologi itu, dan begitu pula dengan berbagai jenis tujuan (pekerjaan, sekolah, diagnosa klinis, dll) yang ditetapkan oleh pemakai tes psikologi.
Jadi, kalau kita tidak lulus suatu tes psikologi bukan berarti bahwa kita bodoh atau tidak mampu. Jawaban yang paling mungkin adalah kita belum tentu cocok dengan jenis pekerjaan atau tujuan dari tes psikologi itu. Terkecuali untuk tes psikologi yang mendasarkan pengukurannya pada tingkap kemampuan (ability level) dari pesertanya, dimana peserta yang paling mampu yang diterima atau diluluskan. Misalnya untuk tes kesiapan masuk sekolah, tes untuk suatu pekerjaan khusus (pilot, mekanik, dll), dan jenis tes yang lain.
Gugatan dan kutukan terhadap tes psikologi lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan peserta tes terhadap ukuran-ukuran yang diterapkan oleh pemakai tes psikologi. Sehingga timbul pikiran bahwa tes psikologi adalah semacam momok menakutkan.
Jawaban ini yang selalu saya berikan kepada orang yag bertanya, binatang seperti apa psikotes itu. Dengan harapan bahwa mereka dapat mengerti. Apakah anda mengerti ?

Apa kasus yang lagi ramai sekarang ? Banyak. Ada fenomena gunung Merapi meletus, ada kasus suap (katanya success fee, tapi sama saja) yang melibatkan Trunojoyo I, ada kasus hakim Tipikor yang lagi berkelahi, dan yang paling panas, kasus Soeharto, mantan presiden RI yang mengalami sakit dan dirawat di RS Pertamina. Kasus yang terakhir menjadi heboh karena Kejaksaan Agung mengeluarkan SKPP alias Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas diri Soeharto dengan alasan : Soeharto sakit dan tidak mungkin diajukan dimuka sidang.
Banyak yang pro dan kontra atas kasus Soeharto ini. Di pihak yang pro mengatakan bahwa Soeharto mengalami kemunduruan fisik dan mental yang tidak memungkinkan dirinya untuk hadir di persidangan. Alasan lainnya adalah masalah karakter bangsa ini yang seharusnya memaafkan Soeharto karena kondisinya dan juga mengingat jasa-jasanya. Di pihak yang kontra mengatakan bahwa masalah utama dari kasus Soeharto adalah : keadilan harus ditegakkan.
Memang sulit untuk memperlakukan Soeharto. Para pejabat negara kita tidak punya kata sepakat cara seperti apa yang akan diterapkan pada kasus ini. Soeharto memang kompleks, sekompleks senyumnya ketika masih berkuasa dulu. Semua sepakat bahwa Soeharto harus diadili, dan ini adalah amanat MPR yang meutuskan untuk menyelidiki kasus Soeharto. Tapi ketika Soeharto sakit, semua tidak sepakat memperlakukan Soeharto. Bahkan ada kata-kata yang terdengar bahwa kita harus memaafkan Soeharto melihat kondisinya saat ini dan mengingat jasa-jasanya dulu.
Tapi tunggu dulu. Memaafkan adalah masalah lain. Dan saya yakin bangsa ini adalah bangsa pemaaf yang bisa dengan gampang memaafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh orang lain kepadanya, apalagi jika kesalahan itu diperbuat oleh pemimpinnya. Hal itu sepertinya sudah menjadi sifat dan karakter bangsa ini. Tapi memaafkan bukan dengan serta merta membuat kita melupakan dan menghilangkan apa yang telah dilakukannya. Maaf tanpa keadilan adalah sebuah kesalahan. Bagi saya pribadi, Adil harus diutamakan, setelah itu baru maaf.
Lalu apakah adil kalau kita begitu saja melupakan semua kesalahan-kesalahan Soeharto dimasa lalu yang telah dituduhkan kepadanya ? Saya memaafkan Soeharto sebelum dia diadili, dan bahkan setelah dia diadili dan terbukti bersalah atau tidak bersalah. Tapi KEADILAN adalah jalan utama dan pertama penyelesaian masalah. Soeharto harus diadili, apapun caranya. Hal ini hanya untuk membuktikan satu premis sederhana bahwa ada keadilan dan kepastian hukum di negeri ini. Sudah terlalu banyak orang yang kebal hukum di negeri ini. Kalau cuma kebal peluru atau kebal golok, justru nggak apa-apa.
Mungkin bagi orang yang merasa berat untuk mengadili Soeharto masih mempunyai hutang jasa terhadap Soeharto, atau justru masih sedikit terhipnotis oleh senyum maut Soeharto yang mengandung seribu tanya. Tapi senyum itu tak bisa menyelamatkan dirinya lagi. Pengadilan, itulah jalan terbaik bagi Soeharto. Dan setelah itu masih terbuka beribu pintu maaf bagi Soeharto, karena orang yang memaafkan adalah orang yang berbesar hati.

Pasti banyak yang bertanya-tanya, mengapa blog ini memakai nama hades, sang dewa penguasa dunia bawah alias neraka dalam mitologi Yunani ? Sebenarnya tidak ada alasan khusu, hanya sekedar menyamakan dan mengidentikkan diri dengan tokoh paling "gelap" dan "misterius" dalam mitologi itu.
Hades adalah dewa penguasa dunia bawah (underworld) dalam mitologi Yunani. Underworld sering diidentikkan dengan neraka atau tempat bersemayamnya roh-roh orang yang sudah mati. Dalam mitologi itu, underworld adalah Tartarus, sebuah tempat dimana Hades sangat berkuasa. Gerbang depan Tartarus dijaga oleh anjing berkepala tiga yang disebut Cerberus. Setiap roh orang yang telah mati akan menuju ke Tartarus, dan dewa yang bertugas mengantar roh orang mati itu adalah Hermes, sang utusan.
Hades adalah anak kedua dari Chronus dan Rhea, sang penguasa olimpia sebelum Zeus. Chronus mempunyai 6 anak yaitu Zeus, Hades, Poseidon, Hestia, Demeter, dan Hera. Semua anak-anaknya ini sesudah dilahirkan direncanakan akan dibunuh oleh Chronus dengan memasukkan mereka kedalam mulutnya. Tetapi Zeus berhasil melarikan diri dan bersama dengan kelima saudaranya yang lain, mereka membunuh Chronus dan Zeus ditetapkan sebagai penguasa Olympia alias dewa tertinggi diantara dewa-dewa olimpia yang lain.
Hades dikenal juga dengan nama lain yaitu Pluto dalam mitologi Romawi Kuno atau Aides, tetapi orang lebih mengenalnya sebagai Hades sang penguasa Tartarus. Meskipun Hades berkuasa atas tempat orang mati, Hades bukanlah kematian/maut itu sendiri. Dewa yang bertugas untuk mengambil nyawa orang lain adalah Thanatos, dan bukan Hades.
Dalam mitologi Yunani, Hades digambarkan sebagai seorang yang berkepribadian gelap, tertutup, kejam, dan hampir selalu diidentikkan dengan kematian, walaupun dia bukanlah dewa kematian. Penggambaran fisik Hades dalam gambar-gambar dewa Yunani adalah seseorang yang besar, bertubuh gelap, berjanggut lebat, memakai mahkota di kepalanya, dan memegang tongkat (staff) yang melambangkan kekuasaannya atas dunia bawah. Hades hampir selalu dibenci dan ditakuti oleh manusia mortal. Bahkan boleh dikatakan tidak ada satu tempat pemujaanpun yang diperuntukkan khusus untuk Hades.
Ratu Underworld adalah Persephone, putri dari Zeus dan Demeter, sang dewi kesuburan bumi. Hades tidak menikahi Persephone dengan cara yang baik-baik. Dia menculik Persephone dan menyekapnya dalam Tartarus. Tentu saja ibunya, Demeter sangat marah dan sedih kehilangan anaknya. Bahkan Zeus-pun tidak berkuasa untuk mengembalikan Pesephone kembali kepada Demeter. Saking sedihnya Demeter, dia tidak lagi memberikan kesuburan di bumi, musim dingin berkepanjangan, dan tanaman tidak dapat tumbuh lagi di bumi. Banyak orang yang menderita akibat kesedihan Demeter yang kehilangan Persephone. Untuk mencegah bumi lebih menderita lagi, maka Hermes, sang utusan, bertugas sebagai mediator antara Hades dan Demeter agar Persephone dibiarkan bertemu kembali dengan ibunya. Hades membolehkan Persephone bersama ibunya selama setahun. Setelah itu Demeter kembali menyuburkan bumi.

Penggambaran Hades dan Tartarus adalah penggambaran tentang kegelapan dan kemisteriusan. Biasanya hal-hal yang gelap dan misterius selalu diidentikkan dengan kematian, walaupun kematian itu sendiri berbeda. Hades bukanlah kematian, tetapi Hades berkuasa atas tempat yang paling ditakuti oleh semua manusia yaitu tempat bersemayamnya roh orang mati. Sangat sedikit manusia yang mengenal Hades, bahkan lebih banyak manusia yang membencinya dan takut padanya. Tapi Hades eksis dalam Tartarusnya. Eksis dalam kegelapan dan kemisteriusan.
Semua cerita diatas hanyalah cerita dalam mitologi Yunani saja. Penggambaran mitologi Yunani sangat jelas dapat dibaca misalnya dalam karya Homerus yaitu Iliad dan Odyssey, dan juga pengarang mitologi Yunani yang lain.
Salah satu kejadian yang membuat duel antara Chelsea dan Manchester United hari minggu yang lalu menjadi tidak enak adalah peristiwa di menit ke 76 dimana Wayne Rooney ditekel dari belakang oleh bek kanan Chelsea, Paulo Fereira. Rooney terjatuh, mengerang; penonton terdiam, membisu; dan pemain Inggris (Lampard, Terry, Neville, Ferdinand, dll) berkumpul dan saling berbicara. Apa yang terjadi ? Yang jelas kelihatan di layar TV adalah Rooney tidak mampu berdiri dan harus ditandu keluar lapangan.
Berita yang paling mencengangkan keluar keesokan harinya : Rooney patah kaki di tulang metatarsal keempat dan harus istirahat minimal 6 minggu. Sementara Piala Dunia 2006 di Jerman hanya tinggal 6 pekan. Mungkin Rooney bisa sembuh pada hari H disaat Inggris berhadapan dengan Paraguay di pertandingan pembukaan, tetapi siapa yang bisa menjamin ? Sementara bagi Inggris, Rooney adalah taringnya macan. Tanpa Rooney, Inggris hanya sekedar macan tanpa taring alias OMPONG.
Memang terlalu melebih-lebihkan peran Rooney, tapi hanya Rooney yang bisa membuat perbedaan di lini depan tim Inggris. Rooney bisa memainkan peran sebagai gelandang serang dan striker. Karakter Rooney sangat sulit dicari dalam pemain Inggris saat ini. Rooney adalah Gazza (Paul Gascoigne) muda dengan kemampuan seorang striker. Dan, sialnya, di tim Inggris sangat sulit mencari pemain yang berkarakter seperti Rooney. Jika Lampard cedera, Inggris bisa punya pengganti dalam diri Steven Gerrard atau Joe Cole. Bahkan jika Owen cedera, Inggris masih punya Peter Crouch atau Darren Bent. Tapi jika Rooney cedera ? Inggris harus mengganti formasi dan mengganti cara permainan.
Tak dapat dipungkiri kalau Inggris mempunyai 4 gelandang yang bertalenta tinggi. Frank Lampard, Steven Gerrard, David Beckham, dan Joe Cole. Inggris juga punya kuartet pemain bertahan yang sangat bagus. John Terry, Rio Ferdinand, Ashley Cole, dan Garry Neville. Dan juga punya penjaga gawang bagus seperti Paul Robinson atau David James. Inggris juga punya Owen. Itu yang membuat tim Inggris dianggap sebagai macan dengan kekuatan yang menakutkan. Tapi sekarang macan itu kehilangan taringnya dengan cederanya Rooney.
Buat para penggemar Inggris, berharaplah bahwa Inggris masih tetap seperti macan. Dan berharaplah bahwa macan itu bisa menemukan taringnya di Piala Dunia 2006 di Jerman nanti. Selamat datang di realitas sepak bola.
Tadi pagi bangun dan dapat berita besar (setidaknya bagiku), Pramoedya Ananta Toer telah meninggal dunia. Serasa tak percaya tapi nyata.
Dari semua sastrawan Indonesia, menurutku, hanya Pram yang bisa membuat perbedaan dalam karya-karyanya. Ini bukan mengecilkan arti sastrawan lain. Pram mampu membuat karyanya bersuara dalam suasana keterpurukan sistem di Indonesia. Karya-karya Pram mampu menembus dinding kemapanan sistem di Indonesia. Bahkan karyanya bisa menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang untuk berjuang.
Pertama membaca Pram adalah karya tetraloginya : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. 3 dari karya tetralogi itu dilarang beredar oleh kejaksaan agung selama rezim Soeharto berkuasa. Sulit bagi sastrawan Indonesia lain yang bisa menandingi karya itu. Salah satu, menurut saya, sastrawan Indonesia yang karyanya juga menyentuh diri saya selain Pram adalah Bung Mochtar Loebis (Alm).
Pram dan Mochtar Lubis "berperang" ketika lembaga sastra yang mereka naungi juga berperang di masa Orde Lama. Pram dengan Lekra dan Mochtar dengan Manikebu. Saya tidak tahu peperangan jenis apa yang mereka lakukan, tetapi keduanya mendapat Penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Philipina. Sayang, Bung Mochtar mengembalikan hadiah itu sebagai protes atas Panitia Penghargaan Ramon Magsaysay yang juga memberikan hadiah yang sama kepada Pram.
Pram memang unik dan idealis. Ideologi yang diusungnya jelas adalah Sosialis dan cenderung Komunis. Ideologi ini sangat tampak dalam karya-karyanya. Tetapi walaupun dia mengambil sikap tegas atas ideologi, karyanya melampaui ideologinya itu. Karyanya kebanyakan adalah sastra fiksi historis.
Sekarang Bung Pram telah pergi. Selamat jalan Bung, biar kami yang mengenang kebesaranmu dan melakukan ide-idemu yang kau tuangkan dalam karyamu.
Apa berita menarik beberapa minggu belakangan ini di dunia Internasional ? Selain ribut-ribut soal pemberian visa bagi 42 warga papua oleh Australia, kerjasama Rusia dan Dunia Islam serta unjuk rasa di Nepal dan Perancis, ada berita menarik oleh National Geography : ditemukannya The Gospel of Judas alias Injil Yudas. Injil ini berbahasa Koptik dan ditulis sekitar 200 tahun setelah kematian Yesus. Lalu apa yang menarik ?
Orangpun mulai meneliti keaslian injil tersebut. Dan hasilnya adalah injil itu adalah asli bin murni. Keaslian manuskrip dan tulisan yang digunakan, serta aspek-aspek arkeologi lainnya yang mendukung keaslian injil itu. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah : apakah ceritanya benar-benar terjadi ? Tidak tahu. Banyak cerita mengenai kehidupan Yesus. Saking banyaknya bahkan kita bisa membuat Alkitab (kitab suci orang Kristen) menjadi sangat tebal jika semua cerita-cerita itu dijadikan satu alias dikanonisasi. Tapi yang diakui oleh umat Kristen sebagai cerita-cerita yang asli dan benar tentang kehidupan Yesus adalah hanya 4 kitab injil, sedangkan yang lainnya diragukan kebenarannya.
Terus terang, dan memang saya selalu berterus terang, bahwa keempat kitab injil itu (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sangat sedikit mengungkapkan "cerita lain" dibalik kehidupan Yesus, sedangkan bagi orang Kristen, Yesus adalah inti keimanan mereka. Tanpa konsep Ketuhanan Yesus maka runtuhlah semua iman Kristen yang dibangun dan disusun selama ribuan tahun. Contoh lain yang mengungkap kelemahan cerita Yesus dari sisi kekristenan adalah terbitnya novel Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code. Tak perlu diceritakan apa isinya karena saya yakin hampir semua sudah membacanya. Yang jelas buku Dan Brown itu lalu disertai dengan sejumlah counter-story, khususnya dari kalangan gereja, yang isinya menepiskan kebenaran dan kesahihan cerita Yesus ala Da Vinci Code-nya Dan Brown.
Mana yang benar ? Lagi-lagi saya tidak tahu. Ketika perdebatan terjadi di tingkat "elit", dengan memuat dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang mendukung argumentasinya, maka saya kembali lagi seperti si bodoh yang bingung : orang-orang ini lagi ngomongin apa sih ? koq masalahnya jadi ruwet gini ?
Bagi sebagian orang, mempertahankan dan membela dogma adalah kewajiban, atau dalam bahasa planetnya : apologetik (kini saya yang bikin bingung). Tapi bagi orang lain, dogma tidak penting. Yang penting adalah apakah isi keimanan itu. Walaupun seseorang jungkir balik mempertebal otaknya dengan mempelajari setumpuk dogma tapi jika isi keimanannya tidak ada, maka lebih baik tidak usah beragama. Bagi sebagian yang lain, keimanan tanpa tahu apa kebenaran dan konsep dibalik keimanan itu akan membuat seseorang gampang jatuh ke dalam kebuntuan akal. Iman harus disertai dengan akal, tanpa akal maka iman gampang goyah. Orang di pihak kedua lalu bertanya : bagaimana jika justru akal itu yang menegasikan (apa itu ?) keimanan kita ? Apakah kita tidal lagi mempunyai iman ?
Lalu perdebatan berubah seperti perdebatan telur dan ayam. Bagi saya, tidak penting mana yang benar. Saya tahu dogma karena dogma itu memperjelas keimanan saya. Tapi yang terpenting, bukan dogma itu yang membuat keimanan saya eksis, tapi adanya rasa di dalam hati saya. Iman menyangkut belief, dan walaupun sudah dihadapkan dengan bukti-bukti empiris yang menolak keimanan/belief saya, belief itu sangat susah terkikis karena keimanan menyangkut kenyamanan dan keamanan psikologis dan batin.
Lalu kalau orang bertanya lagi kepada saya : Apakah Gospel of Judas itu benar ? Apakah Da Vinci Code itu benar ? Saya jawab : peduli amat benar, yang penting iman saya yang sekarang membuat saya jadi orang yang benar. Titik nggak pakai koma.
Beberapa bulan yang lalu saya mendengar kabar kalau saham PT Sampoerna Tbk dibeli oleh Phillip Morris (PM), sang pengedar Marlboro, sehingga PM kini jadi pemilik saham mayoritas di salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia itu. Saya bukan penggemar rokok Sampoerna sampai harus unjuk rasa menentang pembelian saham itu, tapi jadi heran, mimpi apa PM sampai mau membeli saham di Sampoerna ?
Ada yang bilang kalau penjualan rokok Marlboro mengalami penurunan signifikan di kawasan Eropa dan Amerika, sampai-sampai PM rela merogoh kocek untuk melebarkan sayap perusahaannya di Asia. Karena Asia masih mempunyai pasar yang "menantang". Tapi mengapa Sampoerna ? Mungkin ini pilihan strategis. Kita maklum kalau Samperna (rokok) adalah andalan utama grup Sampoerna dalam hal pendapatan, lalu mengapa mereka rela melepas divisi bisnis yang menjanjikan ini ?
Saya tidak mau berandai andai, tapi mungkin yang penggemar Sampoerna (Mild, Dji Sam Soe, dll) akan protes. Mereka tidak sudi rokok kesayangannya dicampuri "rasa" Amerika ala Marlboro. Tak terbayang dalam pikiran saya kalau rokok jenis mild diberi "sentuhan" Marlboro. Lebih tak terbayang lagi kalau rokok kretek (yang katanya sudah dilarang di luar negeri) diberi "sentuhan" ala Marlboro. Rasa apa jadinya ?
Dan saya pun tak sudi kalau rokok Marlboro (yang saya sukai) akhirnya diberikan rasa tembakau jawa gaya Sampoerna. Kita sudah terbiasa dengan teman atau kenalan yang berbeda latar belakang, tapi soal rasa (apalagi rasa rokok), tak ada istilah pencampuran rasa. Jika sudah fanatik dengan satu rasa, rasanya tak akan bisa pindah ke lain rasa (beda dengan ke lain hati). Memang selama ini belum terasa aroma Sampoerna untuk tiap batang Marlboro yang saya hisap, tapi untuk prospek ke depannya, siapa yang tahu…
Akhir kata, berjuta maaf untuk anda yang membaca blog ini tapi bukan perokok. Percayalah kalau anda belum tentu lebih sehat dari kami para perokok.

Tak pernah terbayang jika manusia tidak mempuanyai moral, tapi lebih tak terbayang lagi jika manusia tidak punya hati nurani. Moralitas lebih mengatur pada apa yang baik dan yang tidak baik. Dia hanya menyentuh sisi terluar dari kehidupan dan tingkah laku manusia. Kita bisa membuat banyak sinonimnya: norma, nilai, etika, tatanan, dll. Tapi hati nurani menyentuh sisi terdalam dari batin manusia, karena dia berbicara tentang apa yang benar dan yang salah.
Orang mungkin mengatakan bahwa moralitas adalah pengejawantahan dari hati nurani manusia. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Hati nurani tak pernah terindera dan hanya bisa terasa. Moralitas teraplikasi dalam kehidupan. Tetapi perbedaan utamanya adalah bahwa moralitas adalah hati nurani yang telah terselubungi dan tercampur dengan topeng (mask). Manusia memakai topeng dalam perbuatan dan tingkah lakunya. Tidak semua moralitas dalam diri (hati nurani) bisa diaplikasikan dengan mudah pada dunia luar. Manusia selalu menampilkan apa yang selalu menyenangkan dan apa yang berwujud kebaikan ke dunia luar. Dan inilah peran topeng itu.
Ketika moralitas dijadikan sandaran suatu komunitas dan dijadikan pegangan hidupnya, selalu saja ada perbenturan dengan komunitas yang lain. Ini karena moralitas suatu kelompok tidak pernah sama dengan moralitas kelompok lain. Apa yang membedakannya ? Topeng. Topeng itu bisa berbentuk apa saja, bisa agama, budaya, nilai sosial, pendidikan, gaya hidup, dan lain-lain. Itulah yang membuat suatu moralitas berada dalam sisi relatif, bukan relatif dalam arti tidak ada patokan bersama tentang nilai kebaikan, tetapi relatif dalam arti "adanya topeng yang berbeda antara tiap individu dan antara tiap komunitas".
Untuk komunitas yang lebih homogen (walaupun tidak 100% homogen), lebih mudah mudah mengaplikasikan suatu moralitas tertentu, karena topeng yang dipakai oleh anggota komunitas itu tidak jauh berbeda. Moralitas jenis ini dapat dengan mudah kita jumpai di suatu komunitas yang sama secara agama, budaya, pendidikan, nilai sosial, dll. Misalnya saja kelompok yang mengaplikasikan peraturan-peraturan agama sebagai tatanan nilai dalam kelompoknya.

Tapi moralitas jenis itu akan menemui kesulitan ketika berhadapan dengan komunitas yang lebih majemuk. Apa yang membuatnya sulit ? Sekali lagi Topeng. Topeng yang berbeda dikenakan oleh orang dan kelompok yang berbeda akan menghasilkan nilai dan norma (moralitas) yang berbeda. Paksaan moralitas berupa keseragaman justru hanya menghasilkan konflik. Nilai yang berbeda tidak bisa dipaksakan seragam. Aturan-aturan yang melandasi kehidupan suatu komunitas besar yang heterogen adalah nilai bersama yang diadopsi dari masing-masing moralitas tiap kelompok dalam komunitas itu. Bahkan moralitas terkadang tidak boleh dijadikan suatu landasan hukum positif dalam komunitas itu. Karena mengundangkan suatu aturan yang berbasis moralitas tertentu akan menghadapi resistensi dari kelompok lain yang merasa tidak bisa menerima moralitas tersebut.
Adalah suatu hal yang teramat absurd kalau memaksakan suatu jenis moralitas tertentu yang berbasis pada suatu topeng tertentu pada kehidupan suatu komunitas yang heterogen.